MANFAAT TI TERHADAP ANAK USIA DINI
( DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF )
Teknologi
informasi sangat berperan penting dalam sarana dan prasarana pembelajaran. Tujuan
diberikannya teknologi informasi pada anak usia dini adalah memperkenalkan
teknologi informasi, selain itu untuk memudahkan anak usia dini dalam membatu
proses belajar dengan cara yang menyenangkan, kreatif, imaginatif. Pemakai teknologi
informasi dan komunikasi sebagai sumber belajar, seperti cd interaktif. Contohnya,
belajar berhitung, belajar membaca, mengenal huruf, mengenal warna dll.
Anak-anak
pada usia dini sangat cepat dan mudah belajar seraya bermain, yang terkadang sebagai orang tua atau juga
sebagai pendidik anak usia dini tidak boleh melupakan pengawasan dalam
pembelajaran yang menggunakan sumber belajar teknologi informasi komunikasi
agar anak-anak tidak melenceng jauh dari pengenalan pembelajaran yang di
harapkan sebagai sumber belajar yang baik.
Ø Dampak
Positif
Anak-anak dapat menggunakan perangkat lunak
pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca, berhitung,
sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini
kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang sesuai dengan
materi, sehingga anak semakin suka.
1.Membuat
anak semakin tertarik untuk belajar.
2.Dapat
menjadi solusi bagi para orangtua yang memiliki anak yang merasa mudah bosan untuk belajar.
3.Dapat
menambah wawasan.
4.Memudahkan
anak-anak untuk mendapatkan banyak ilmu tambahan lewat internet.
Ø Dampak
Negatif
1. Anak-anak
bisa ketergantungan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi.
2. Anak-anak
akan cenderung mengerjakan tugas sendiri dengan bantuan internet dari pada
belajar berkelompok yang disitu banyak sekali hikmah-hikmah yang terkandung
dalam nilai kebersamaan.
3. Dapat
terpengaruh kedalam pergaulan yang tidak baik karena kurang control dari teman
ataupun dari orang tua.
4. Anak-anak
bisa saja secara tidak sengaja mengakses situs-situs pornografi.
5. Mengurangi
sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet
daripada bertemu secara langsung (face to face).
6. Kemungkinan
besar tanpa sepengetahuan orangtua, anak ‘mengkonsumsi’ games yang menonjolkan
unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan
mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu
munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar